Kota Kecil Temanggung

make Temanggung so Beautiful

Arsip untuk November, 2008

di bawah kaki gunung sumbing dan sindoro

Ditulis oleh temanggung1 di/pada November 17, 2008

Pagi ini aku bermain basket di SMU N 1 temanggung

Kulihat sang surya memancar dari timur, dengan keindahan dan keelokannya

menembus batas dan akhirnya ada perjumpaan dengan punggung

gunung sumbing dan sindoro

Perjumpaan yang selalu di dambakan setiap pagi

untuk menerangi jiwa-jiwa yang gelap.

Awan putih yang menaungi puncak gunung menambah keindahan

perjumpaan pagi ini,

Temanggung ku yang selalu bersenyum kembali bersenyum

setiap paginya meski banyak tantangan malam tadi

tetapi temanggung ku selalu bersemangat untuk menyambut pagi

menyambut hari yang selalu di nanti

go go temanggung

selalu berjuang meski kadang tersandung

selalu berjalan meski kadang gagal

Temanggung jadilah Engkau Pahlawan-pahlawan kecil ku

temanggung, 17 Nopember 2008

untuk seorang teman

Ditulis dalam Awal hari | Leave a Comment »

Insinyur yang Laku Jualan Radio Kayu

Ditulis oleh temanggung1 di/pada November 16, 2008

Insinyur yang Laku Jualan Radio Kayu
Minggu, 16 November 2008 | 07:35 WIB

KRISIS moneter yang menggoncang perekonomian dunia tidak membuat kecut hati alumnus design Institut Teknologi Bandung (ITB), Singgih Kartono (40). Ia tetap tekun dengan usaha pembuatan radio menggunakan bahan baku kayu. Berkat kreatititas produk dan strategi pemasaran yang jitu, produk karya Singgih berhasil melanglang buana mulai dari Jepang, daratan Eropa hingga Amerika sana.

Berkat karya radio ini, Singgih berhasil meraih penghargaan International Design Resource Association (IDRA) di Seattle Amerika Serikat pada 1997 lalu. Kerajinan ini jawara untuk kriteria produk dengan bahan yang bisa didaur ulang, memberi potensi besar terhadap proses daur ulang, dan memberi nilai lebih terhadap produk. Radio retro ini bisa disetel untuk AM atau FM, juga untuk MP3 dan dua band gelombang pendek.

Singgih mulai merintis usahanya itu sejak tahun 1995 lalu. Si penggagas radio kayu asal Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah ini ingin mengubah pandangan orang bahwa kerajinan tangan tidak selalu identik dengan seni atau tradisional, tapi juga memasukkan industri elektronik.

Selain meraih penghargaan dari IDRA, radio kayu ‘made in’ Singgih tahun ini juga berhasil meraih penghargaan dari Design  For Asia Award 2008.

Dunia kayu memang sudah melekat pada diri pria satu ini, sebelum ia menekuni bangku kuliahnya di ITB. “Saya tidak tahu persis, apa faktor kedekatan saya pada alam dan tumbuhan karena lingkungan  alam di sekitar tempat saya tinggal di Temanggung banyak ditumbuhi pohon sengon dan sonokeling. Kayu merupakan material yang luar biasa hidup, berkesinambungan dan terbatas,” ujar Singgih saat ditemui Bangka Pos Group, pertengahan Oktober lalu.

Perjuangannya dimulai sejak ia akan berangkat kuliah ke ITB. Sang ayah tak sanggup membiayainya secara penuh. Singgih sempat nekad bertanya pada ayahnya, berapa biaya yang bisa diberikan oleh sang ayah. “Sisanya saya yang akan menanggungnya,” ujar Singgih.

Selesai menekuni masa belajarnya di Bandung, Singgih Kartono justru kembali ke tanah kelahirannya di Temanggung.

Materi kayu tetap jadi pilihan Singgih untuk mencari mata pencaharian. Tidak heran bila alumnus ITB ini sering modar mandir di sekitar tempat tinggalnya mengendarai Vespa milik ayahnya, hanya untuk mencari dan mengumpulkan potongan-potongan kayu sebagai bahan  materi pembuatan produknya.

Singgih lalu merintis usaha di rumahnya yang diubah menjadi workshop. Sementara untuk pelaksanaan bisnis, Singgih terpaksa mengkontrak ruang tamu tetangganya sebagai tempat transaksi bisnisnya.

Awal mula Singgih merintis usahanya pada usaha produk-produk peralatan kantor, seperti stepler kayu, tempat selotipe, kotak  peralatan. Baru tahun 2005 keinginan membuat kotak radio dilakukannya.

Jualan Lewat Internet

Semua produk kayu hasil produksi Singgih ditawarkannya melalui jalur internet, mengingat bila dilakukan secara langsung, banyak  kendala yang harus dihadapi. Dengan internet, buyer (pembeli) dapat langsung mengkontak dan sekaligus datang untuk membeli produknya.
Diakui Singgih, setiap pembeli produk radio kayunya harus tetap menggunakan namanya serta merek usahanya, Magno.

“Saya tidak mengizinkan pembeli radio kayu produk saya mengganti dengan nama lain,” kata Singgih.
Radio kayu Singgih dijual dari kisaran 80, 58 dan 47,5 dolar AS untuk ukuran radio kayu kecil. Bahkan di Amerika, harga radio yang dibandrol dengan harga 47,5 dolar ini mampu menembus angka 250 unit per bulan.

Perusahaan milik Singgih bernama Magno, memulai merintis usaha pertamanya membuat tempat kaca pembesar dan tempat kompas dari kayu. Kini Magno telah memiliki 33 tenaga pekerja dari Desa Kandangan. Kapasitas produksinya 250 hingga 300 unit radio per bulan. Dari jumlah itu, sekitar 80 persen produknya diekspor ke Amerika Serikat, sisanya masing-masing 15 persen ke kawasan Eropa dan Jepang.

Selain melakukan kegiatan bisnisnya dari bahan  kayu, tak lupa setiap 2 persen persen dari hasil penjualan produk-produk radio maupun peralatan kantor disisihkan Singgih untuk pembibitan kayu sengon maupun sonokeling. Singgih tahu betul akan ekosistem alam, setiap dia menggunakan pohon untuk memproduksi, maka ia segera menanam kembali penggantinya.

Mau tahu berapa besar omzetnya? Dari 300 radio kayu yang dijual hingga 250 dolar AS, Singgih mampu memperoleh Rp 750 juta per bulan. Kini keuntungannya terus berlipat seiring terus berkembangnya usaha ini. Bahkan Singgih mengaku jumlah permintaan produk buatannya berkisar 500 hingga 600 unit per bulan.

Singgih pantas diacungi jempol. Selain mampu menghidupi  kebutuhan keluarga, usahanya turut membantu kehidupan tetangga yang ikut bekerja memproduksi radio kayunya. Singgih hingga saat ini tidak pernah meraih penghargaan dari negerinya sendiri, justru dari dunia internasional memberikan apresiasi terhadap buah tangan orang asli Indonesia ini. (budi prasetyo)

Sumber : Persda Network

Ditulis dalam 1 | 1 Komentar »

Nopember yang baru 2008

Ditulis oleh temanggung1 di/pada November 16, 2008

Saat berjalan di jl. kranggan banyak kulihat sampah berserakan, genangan air dimana-mana.

Apakah ini di namakan Temanggung Bersenyum, kurasa tidak Temanggung tidak begini,

Temanggung yang kuimpikan adalah Temanggung yang selalu Bersenyum dan membuat orang lain tersenyum bukannya  Temanggung yang terlalu banyak sampah dan tidak ada yang peduli.

Ditampung kemana kah sampah Temanggung : dibuang ke kali progo atau dibuang ke kali-kali yang lain sungai sungai yang lain. Sama sajakan .

Bagaimana kalau tiap kelurahan membuat penampungan sampah sendiri sendiri, sehingga tidak membebani pemkot dan juga negara karena sudah bisa mengatur sampah dan mendaur ulang sampah atau malah menjual daur ulang sampah itu.

Oh Temanggung akankah Engkau Terus begini, akankah ada yang peduli dengan mu,

dengan kebersihan dan dengan diri nya sendiri, peduli untuk peduli dengan orang lain,

Temanggung Temanggung berubah lah selalu untuk menjadi lebih baik,

Engkau harus terus maju go go go selalu

Doa ku dan harapanku ada padamu

Ditulis dalam Awal hari | Leave a Comment »